mardiyanto    binoracom   

Artikel Terbaru

Semangat Menulis

Pengunjung

GG Belum Ambil Sikap soal Pembubaran PTM Surya




KEDIRI- Pemkot Kediri akhirnya ikut cawe-cawe atas krisis yang melanda Persatuan Tenis Meja (PTM) Surya. Wali Kota Achmad Maschut mengatakan, dalam waktu dekat akan mengundang pengurus klub kebanggaan masyarakat kota ini yang baru dibubarkan tersebut. Termasuk Ketua Harian PTM Surya Diana Wuisan.

Mereka akan diajak bicara bersama pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Kediri. "Kami akan membahas masalah yang menimpa PTM Surya," ujarnya kepada Radar Kediri melalui ponselnya, kemarin.

Seperti diberitakan, pembubaran klub tersebut sangat disayangkan masyarakat Kediri. Maklum, sejak berdiri pada 1982, mereka merasa telah memilikinya. Bahkan telah menjadi ikon kebanggaan kota ini. Berbagai torehan prestasi atlet-atletnya di kancah nasional maupun internasional turut melambungkan nama Kota Kediri.

Maschut mengatakan, dari pembicaan itu, diharapkan bisa diketahui akar permasalahannya. Dari sana, pemkot akan menentukan langkah lanjutan terhadap pembinaan atlet-atletnya pascapembubaran. Terutama yang berasal dari Kota Kediri.

Lalu, apakah pemkot akan mengambil alih klub tersebut? Maschut menolaknya. Menurut dia, pemkot tidak mempunyai cukup uang untuk melakukan pembinaan seperti yang dilakukan PT Gudang Garam (GG). Kecuali jika KONI Pusat mau turun tangan langsung. "Kami siap memfasilitasi," tandasnya.

Dari gedung dewan, ungkapan keprihatinan terhadap pembubaran klub yang dulu bernama PTM Sanjaya itu terus mengalir. Ketua Komisi A Heru Ansori mengatakan bahwa pemkot harus menyelamatkannya. Sebab, klub itu sudah menjadi aset kebanggaan Kota Kediri. "Sesuai Permendagri, pemkot bisa melakukan pembinaan olahraga melalui KONI. Kami akan menyetujui anggarannya untuk pembinaan tenis meja," katanya.

Sayang, hingga kemarin Ketua Harian PTM Surya Diana Wuisan tetap belum bisa dimintai komentar. Dihubungi berkali-kali melalui ponselnya, tidak diangkat. Kompleks GOR Sanjaya yang menjadi kantornya selama ini, mulai kemarin ditutup untuk umum. Termasuk wartawan. "Maaf, mulai hari ini wartawan dan masyarakat yang tidak berkepentingan dilarang masuk," ujar Mujito, satpam GG yang bertugas di pos pintu masuk kompleks GOR Sanjaya kepada Radar Kediri.

Mujito mengatakan bahwa larangan itu merupakan perintah atasannya. "Saya hanya menjalankannya. Kalau mau konfirmasi, silakan langsung ke unit I saja menemui Pak Simon (Simon Suyono, sekretaris PTM Surya, Red)," ujarnya.

Mujito sendiri turut menyayangkan pembubaran klub tenis meja terbesar di Indonesia itu. Dia juga merasa kehilangan. Hari-harinya yang diwarnai dengan canda tawa atlet-atlet muda PTM Surya kini tak ada lagi. "Mereka sudah seperti anak saya sendiri. Maklum, setiap hari kami bertemu dan bergaul," ujarnya.

Tentang peralatan tenis meja di GOR Sanjaya, menurut dia, sampai kemarin masih berada di tempatnya semula. Termasuk ratusan piala yang dipajang di almari. "Kalau seperti itu, biasanya akan dirawat dan tidak akan dijual," tuturnya.

Tak hanya Mujito. Saleh, 50, tukang becak yang biasa mangkal di dekat GOR Sanjaya tak kalah bersedih. "Saya kenal dengan anak-anak Sanjaya sejak Mbak Putri (Putri Hasibuan, Red) masih kecil," ungkapnya seraya mengaku telah 20 tahun mangkal di sana.

Keberadaan GOR Sanjaya diakui bisa membuat pendapatannya meningkat. Hampir seluruh atlet Sanjaya yang tinggal di mes pernah merasakan jasanya. Sebab, banyak di antara mereka yang memilih becak sebagai alat transportasinya jika keluar mes. Jika Minggu, dia mengaku bisa mendapatkan Rp 15 ribu.

Sekretaris PTM Surya Simon Suyono yang dihubungi lewat ponselnya kemarin tidak memberikan jawaban memuaskan terkait penutupan klub tersebut. Termasuk tentang nasib pemain dan pelatihnya. "Saya sedang boyongan ke unit I. Jadi, belum bisa berkomentar terkait itu. Mohon maaf ya," elak asisten kepala divisi pelayanan umum PT PT GG ini.

Sementara itu, Wakil Direktur Bidang Sumberdaya Manusia dan Pelayanan Umum PT Gudang Garam Slamet Budiono mengatakan, manajemen GG tidak pernah mencampuri urusan internal klub. Termasuk rencana pembubaran ataupun pengembangan klub. "Klub punya otonomi sendiri, mereka juga punya badan hukum sendiri," katanya saat ditemui Radar Kediri usai menghadiri rapat di Balai Kota Kediri kemarin.

Ketika ditanya tentang kabar bahwa pembubaran PTM Surya karena GG tak mau lagi mendanai, Slamet langsung membantahnya. Menurut dia, hingga saat ini manajemen belum mengambil sikap. Karena itu, dia menyarankan untuk melakukan konfirmasi langsung kepada pengurus klub.

Jawaban serupa dikatakan Slamet ketika ditanya tentang isu pembubaran klub basket Halim yang juga didanai penuh oleh PT GG. Menurutnya, hingga saat ini manajemen perusahaan belum memutuskan apapun. "Kami belum tahu, silakan hubungi pengurus Halim," lanjutnya. (ut/tyo/hid)

Sumber : http://www.jawapos.co.id

Duh, Surya Tinggal Kenangan





JAKARTA - PB PTMSI menghadapi ujian berat. Induk organisasi yang dipimpin Taher itu harus kehilangan tim terbesarnya, PTM Surya, Kediri, di tengah persiapan menghadapi Kejuaraan Tenis Meja se-Asia Tenggara (SEATTA) di Sport Mall Kelapa Gading, Jakarta, pada 20-25 Oktober mendatang.

Ketua Harian PTM Surya Diana Wuisan mengumumkan penutupan klub tenis meja tersebut pada Senin lalu (13/10). Penyebabnya, klub itu tidak lagi mendapatkan pasokan dana dari sponsor PT Gudang Garam. Namun, Diana belum memberikan keterangan resmi kepada PB PTMSI.

"Saya sudah memberitahukan kepada para pemain kemarin (Senin lalu, Red). Bagaimanapun, ini kebijakan manajemen dan kami hanya bisa menurut," kata Diana. Saat ini, pihaknya fokus memikirkan nasib para pemain, terutama yang masih berstatus pelajar.

Masa belajar mengajar baru saja dimulai. Sehingga, mereka baru bisa memutuskan pindah enam bulan mendatang. "Sebagai bentuk tanggung jawab kami, anak-anak itu akan kami kembalikan ke orang tua masing-masing," tutur Diana.

Ketua Umum PB PTMSI Taher segera mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan aset PTM Surya. Menurut Taher, pihaknya mengutamakan tiga komponen penting klub yang didirikan pada 1980 itu. "Kami harus memikirkan nasib pelatnas tenis meja ke depan. Selama ini, klub Surya menjadi tempat latihan," ujar pemilik Bank Mayapada tersebut di Jakarta kemarin (14/10).

Selain itu, PB bakal mengambil alih atlet-atlet titipan pengurus provinsi (pengprov) yang berlatih di Kota Tahu tersebut. "Mereka telah mencetak banyak pemain-pemain muda yang potensial. Tentu kami tidak bisa membiarkan potensi itu lepas," tutur Taher.

Dia menyadari, dana yang dibutuhkan PB untuk merampungkan masalah tersebut sangat besar. Terutama, dana untuk menggeber pelatnas. "Terutama, tempat tinggal bagi pemain dan pelatih," tegasnya.

Taher memperkirakan, ada 80 atlet dan sepuluh pelatih yang masa depannya harus dipikirkan. Karena itu, dia segera mengadakan rapat pengurus pada pekan ini. Masalah tersebut akan dibawa ke Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PB PTMSI di Jakarta pada 23 Oktober mendatang.

Meski kelimpungan, Taher berterima kasih kepada PT Gudang Garam yang turut mengembangkan tenis meja di tanah air. Bahkan, pihaknya akan memberikan penghargaan kepada PT Gudang Garam, Diana Wuisan, dan Willy Waroka yang dianggap berperan penting dalam tenis meja.

Taher juga menjamin persiapan menuju SEATTA tetap berjalan lancar meski mayoritas tim nasional diperkuat pemain PTM Surya. Indonesia bakal diperkuat tiga pemain dari Jatim, Ficky Supit, Gilang Maulana, dan Khoirudin, dan Haruli Dahlan (Kalteng) di sektor pria. Di kelompok wanita, ada Christine Ferliana (Jatim), Ceria Nilasari Jusma (Jatim), Nunik Sugianti (Jabar), dan Nur Azizah. (vem/diq)

Sumber : http://www.jawapos.co.id


 
Copyright © 2014 etanal. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger