Pages

SELAMAT DATANG DI WEBSITE ETNANAL

Minggu, 13 September 2009

Anton Suseno: ITMN Kurang Efektif




Jakarta, Sinar Harapan. Sistem pencarian data dasar untuk menentukan peringkat nasional melalui ajang Invitasi Tenis Meja Nasional (ITMN) dinilai Anton Suseno kurang efektif. Pasalnya, penentuan peringkat tidak cukup dengan hanya sekali menyelenggarakan event tingkat nasional saja.

Anton, yang dalam usia ”senjanya” masih mampu meraih medali emas di SEA Games 1999 Brunei Darussalam, mengatakan, seharusnya peringkat nasional ditentukan melalui pengumpulan nilai dari berbagai turnamen seperti Kejurnas, turnamen terbuka atau Pekan Olahraga Nasional (PON). Seperti halnya dengan cabang olahraga tenis lapangan yang menentukan peringkat pemain nasional berdasarkan nilai yang dikumpulkan dari berbagai turnamen tenis di dalam negeri.



”Gabungan nilai itulah yang akan menentukan peringkat mereka. Ini tampaknya akan lebih obyektif,” kata Anton Suseno di sela-sela pertandingan ITMN di Hall Bola Voli Gelora Bung Karno, Jakarta, Jum'at (13/9) kemarin.

Menurut Anton, adanya rentang prestasi antara atlet yunior dan senior yang cukup jauh saat ini disebabkan karena tidak adanya kesinambungan pembinaan PB PTMSI (Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Indonesia). Ia menilai sistem Pelatnas jangka panjang diterapkan agar kelangsungan kaderisasi atlet tetap berjalan.

”Selama ini setelah usai menjalani Pelatda atau Pelatnas mereka lalu dibubarkan begitu saja tanpa ada kelanjutannya. Metode seperti ini harus segera diperbaiki agar kaderisasi tetap berjalan, ” ujarnya lagi.

Selain itu, untuk menjari bibit petenis meja, pertandingan di dalam negeri harus diintensifkan, di antaranya dengan menata kembali kompetisi antarklub yang menjadi ujung tombak program pembinaan. Kompetisi tersebut dampaknya sangat besar karena akan membangkitkan kembali gairah klub-klub yang selama ini lesu darah lantaran minimnya frekuensi pertandingan.

”Siapkan aturan pertandingan sebaik mungkin. Kalau perlu nantinya diterapkan sistem promosi dan degradasi. Saya yakin manfaatnya sangat besaar bagi kemajuan tenis meja di tanah air,” cetus Anton.

Di sisi lain, Anton yang pernah bergabung dengan klub tenis meja di Swedia ini, merasa prihatin dengan masih rendahnya ”prize money” dalam turnamen lokal. Meskipun demikian, para petenis meja senior tetap tampil untuk sekadar mendapatkan sesuap nasi.
”Untuk lebih menggairahkan para petenis meja, hadiah tersebut harus ditingkatkan. Memang, tidak harus sama persis dengan Swedia. Akan tetapi, minimal mampu merangsang para petenis meja untuk lebih bergairah lagi dalam mencetak prestasi,” ujar Anton. Lolos ke Babak Kedua

Sementara itu, para petenis meja senior yang kembali 'turun gunung' mengikuti Invitasi Tenis Meja Nasional yang berlangsung hingga Minggu (15/9) mendatang berhasil lolos ke babak delapan besar, di antaranya, Anton Suseno (Jateng) yang berhasil menjadi juara grup 18 dengan mengumpulkan nilai enam. Sedangkan Ismu Harianto (Sumut) keluar sebagai juara di grup 1 dengan mengantongi total nilai enam.

Di bagian putri, petenis meja senior Ling-ling Agustin (Jabar) berada di peringkat pertama grup 4 setelah mengumpulkan total angka enam. Mantan ratu tenis meja nasional Rossy Pratiwi Dipoyanti berhasil maju kebabk berikutnya setelah meraih posisi pertama di grup 8 dengan nilai empat. (eko)

Sumber : www.sinarharapan.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

idhostinger

Hosting Gratis